Kuota Guru Garis Depan Tahun 2016 Sebanyak 7000


By | 18.48 Leave a Comment
Guru Garis Depan
Foto: Republika.com
asncpns.com - Pada tahun 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mencanangkan program Guru Garis Depan yang ditempatkan di daerah terdepan terpencil dan terluar dan di Indonesia. Program tersebut telah mengirimkan sejumlah 798 orang kesejumlah tempat yaitu Aceh Besar, Aceh Singkil, Manggarai Timur, Flores Timur, Raja Ampat, dan Sorong. Guru-guru tersebut akan mengajar ditempat tersebut secara permanen dan berstatus CPNS.

Dan untuk Tahun 2016, Pemerintah melalui Kemendikbud kembali akan merekrut Guru Garis Depan. Jumlah kuota yang disediakan naik drastis dari tahun sebelumnya. Untuk tahun ini Pemerintah akan merekrut sebuanyak 7000 guru untuk ditempatkan di 93 kabupaten di daerah tertinggal yang tersebar di 28 provinsi di seluruh Indonesia.

Beberapa waktu lalu bertempat di Hotel Sahid Jakarta diselenggarakan Nota Kesepahaman antara Kemendikbud degan bupati-bupati yang nantinya akan menerima guru garis depan untuk daerahnya. Menteri Anies menghimbau para bupati untuk menerima mereka dengan tangan terbuka dan memandang mereka lebih dari sekedar tambahan pegawai. "Jangan sekedar menganggap mereka adalah pegawai baru atau angka statistik dalam daftar kepegawaian, tapi pandang mereka sebagai promotor dari perubahan di daerah," kata Anies.

Dalam acara tersebut juga Anies berharap para guru gari depan tersebut bisa menginspirasi dan menjadi agen perubahan dan tidak hanya sekedar mengajar saja. "Yang sekarang kita butuhkan anak-anak yang datang ke sana untuk mengajar, mendidik, dan menginspirasi. Jangan berpikir hanya menjadi guru. Namanya menjadi guru tapi perannya sebagai inspirator," tambah Menteri Anies.

Menteri Anies menganggap bahwa program GGD ini bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan guru di daerah terpencil yang selama ini terlupakan tapi juga sebagai program untuk merajut kembali tenun kebangsaan. "Kita semua termasuk yang beruntung karena kita berinteraksi dengan ragam etnik dan budaya, tapi jutaan orang Indonesia lain yang tidak pernah berinteraksi," ujar Mendikbud.

Guru yang dikirim ketempat terkecil tersebut berbeda dengan guru reguler biasa yang ada disekolah-sekolah. Kendala dan medan yang dihadapi pun jauh berbeda, mulai dari ketersediaan listrik, infrastruktur yang menantang. Namun Menteri Anies berpesan bahwa guru-guru tersebut berperan dalam pencerdasan generasi muda dan berperan menjadi agen perubahan, sehingga tugas mulia tersebut harus diemban dengan amanah. "Dulu di awal kemerdekaan, para mahasiswa dengan sukarela dikirim ke daerah tertinggal untuk mengajar di sekolah-sekolah yang belum ada gurunya, itu jadi contoh untuk generasi sekarang," pungkas Anies.


Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: